Postingan

[cinta kasih]

Gambar
aku bertanya-tanya tentang bagaimana siasat kemelut ini bekerja, pada apa yang kujalani sebab kepalaku yang ditancap dan berlubang, pada apa yang kulakoni sebab mukaku yang terlipat dan bertekuk, pada apa yang kuperbuat sebab hatiku yang robek dan cacat. ialah sebuah gambar, yang umurnya pun lebih tua dari umurku, ia sungguh tak sedikit pun mengibaratkanku. robekan-robekan usang sudah diterimanya, gelungan kasar melapukkannya, paku ditancap dan bekasnya pun melubanginya. ia sungguh tidak mengibaratkanku. air mukanya menyejukkanku, mata nanarnya menyayatku, belai tangannya menyanjungku, lembut hatinya memedihkanku, cinta kasihnya memugarkanku. lama ia kulihat-lihat dalam segala keusangannya. bukan karena saat aku terpaksa harus masuk ke bilik di mana ia dipamerkan, tapi ada sesuatu yang sungguh tak keruan. kudapati mata kami saling menatap, tapi bukan nanar yang ia sodorkan. matanya sungguh memedihkan hingga kulinangkan air mataku. kudapati tanda bekas benda keras merobekkannya, tepat p...

[penyakit tua]

  aku sedang memasukkannya satu per satu ke dalam celengan penyesalan, yang seperti bom waktu, dengan tanpa pola menerjangku. aku tak tahu apa yang sedang kumasukkan. kadang terlintas sekelebat pikiran seperti, "kenapa harus yang ini? kenapa tak yang itu? kenapa jadi begini? kenapa aku begitu?"   kala tua nanti, pesakitan ini semakin gaduh menungguku. kala lanjut usiaku nanti, jalan kemelaratan ini semakin panjang merayuku. hari-hari tuaku diisi oleh sakit-penyakit yang datang bukan karena alasan umur, tapi karena penyesalan yang meradang hari per hari. seperti kanker yang menggerogoti satu sel ke per seribu sel yang lain, dengan tanpa tedeng aling-aling menghilangkan.   biarkan aku dibawa olehmu dengan sakit-penyakit ini, walaupun itu berarti tak berujung, dan katakan padaku bahwa jalan panjang ini juga kau sedang susuri. biarkan aku menjamah yang kusuka, walaupun itu berarti   dunia menjebakku, dan katakan padaku bahwa pesakitan ini kau juga.   aku...

[apa gerangan ibu?]

  apa gerangan hai ibu? kenapa kau pura-pura tidur? matamu tertutup, bulu mata lentikmu mengibas-ngibaskan keresahan. kau sapu tilam ke kiri dengan badanmu, untuk sesaat lagi kau belokkan ke kanan. mencari nyaman seraya diburu napasmu agar tenang. apakah kegiatanmu yang sudah kau lakoni 20-an tahun itu sudah mengoyak-ngoyak bajumu tanpa sisa? atau kau sedang berada di dalam pusaran dunia statis yang kau ciptakan tanpa sadar? 168 menenggelamkan dagingmu pada satu rupa yang begitu candu. 10080 menarikmu dari depan, mendorongmu dari belakang, serta-merta membisikkan renjana yang ambigu. 604800 kali kau mengabur-ngaburkan pikiran, tapi sempurna ia semakin bertahan. mungkin dua kalimat tanya tadi kurang mengusikku dibanding yang satu ini. apa kau khawatir karena enggan lagi menyuapiku? inginkah mengusirku dari rumah yang kita tinggali ini, semenjak waktu itu kau juga memastikan akan membangun dunia yang lebih cemerlang? ini sama seperti melihat nenek waktu aku juga tidur disamp...

[ironi]

  aku punya rumah yang ubinnya sempurna mengkilap, perabotannya sempurna tak kasat debu. di malam hari, akan kau temukan teras yang sempurna terang benderang. itu rumahku.   seketika matahari menyalak. kau tak tahu, seberapa kami ingin menanggalkan baju. panas sempurna mengkungkung ruangan ini. sekonyong-konyong hujan pun turun. kau tak tahu, betapa kami harus menyebar gayung-gayung ini. asbes sempurna menumpahkan titik-titik airnya.   kali ini aku memanggil tukang, berharap kekacauan ini sirna. "ini zaman sudah maju, kemana saja kau hingga tega mengupahku dengan uang kolot seperti itu?" malangnya, ia tak sudi dibayar dengan rimis. harapanku setengahnya sirna, benar-benar setengah. kami, seisi rumah ini, gamang betul.   setiap malam aku melamun, kadang berpikir yang tidak-tidak saja, kadang mengosongkan isi kepala juga. merapalkan harapan, semoga rumahku tidak dingin lagi. setiap siang aku melenguh, seperti dada sedang memikul berton-ton angin, ia kel...

[tentang awal]

dalam sebuah tulisan yang tak kunjung tersingkap, tersebutlah awal, yang menjadikan seseorang memunculkan provokasi, kebetulan kosmik, berbentur, dan kacau. mengakibatkan sesuatu terhasut bermacam emosi, dihadapkan pada peristiwa yang kebetulan begitu saja terjadi, kemudian berbenturan, dan menjadi kacau. tapi, ini bukan tentang kemarahan yang meledak-ledak. emosi setidaknya mengambil ribuan hal tersirat, termasuk ambigunya sebuah awal.   awal menjadi keliru ketika ia tak kunjung mendapat tempat yang dirindukan, dan menjadi dirindukan ketika ia mendapat tempat yang keliru. ia menghadirkan kekeliruan pada berpasang muda-mudi yang saling merindu. ia eksis ditengah-tengah mereka yang merindukan mimpi dari kekeliruan saat beranjak dewasa. ia juga ada pada bermacam tindak tanduk yang sama kompleksnya. tapi dalam hal ini, awal menjadi nyata karena dalam persepsinya dikaitkan dengan langkah dan waktu.   seorang teman menganalogikan sebagai berikut. kita tidak bisa mengembalik...

[sebermula]

  sebermula terucaplah yang tak diungkap kepala. ini seperti berputar-putar didalamnya. terus-menerus tiada terhenti, semakin mengeras dan menjadi-jadi. apalah pasalnya agar kutebarkan bersiasat yang kepenuhan ini? apalah medium yang agaknya bertelinga hendaknya mendengar, atau seperti bermata untuk mencari penglihatan, tapi tidak menjadi mulut yang tawar rasa? kuutus sebuah tulisan yang dihantarkan lewat bibir yang juga tercekat-cekat iramanya. berceloteh dan bergeming sambil sekalian mengatup-menganga. Ini isi kepala yang ingin meledak atau memang perasaan yang sudah tak terelak?      t ersungkur aku pada air rendaman mimpi yang tergopoh-gopoh menelanjangi buah kepala waktu masih belasan usia. disentuh hatiku oleh seorang jelita guru Bahasa Indonesia yang membawa kami-muridnya-menuju sebuah ambang gerbang cita. dalam pusaran keriuhan taman depan sekolah, disampaikannya macam cara menaklukkan kata.  p emicu segalanya hanya soal ucapan wahai jelita guruku, y...