[sebermula]

 

sebermula terucaplah yang tak diungkap kepala. ini seperti berputar-putar didalamnya. terus-menerus tiada terhenti, semakin mengeras dan menjadi-jadi. apalah pasalnya agar kutebarkan bersiasat yang kepenuhan ini? apalah medium yang agaknya bertelinga hendaknya mendengar, atau seperti bermata untuk mencari penglihatan, tapi tidak menjadi mulut yang tawar rasa?

kuutus sebuah tulisan yang dihantarkan lewat bibir yang juga tercekat-cekat iramanya. berceloteh dan bergeming sambil sekalian mengatup-menganga. Ini isi kepala yang ingin meledak atau memang perasaan yang sudah tak terelak?

     tersungkur aku pada air rendaman mimpi yang tergopoh-gopoh menelanjangi buah kepala waktu masih belasan usia. disentuh hatiku oleh seorang jelita guru Bahasa Indonesia yang membawa kami-muridnya-menuju sebuah ambang gerbang cita. dalam pusaran keriuhan taman depan sekolah, disampaikannya macam cara menaklukkan kata. pemicu segalanya hanya soal ucapan wahai jelita guruku, yang dengan enteng menuturkan pujian. mendekat aku pada sepatah kata yang sudah dilumatkan salah satu indraku. begitu saja terlintas sepatah ‘hiruk-pikuk’ itu, meradang menjadi pelumas energi segala dunia ini. pada macam cara yang menggeneralisasi itu, insting kelima indraku sejurus menusuk goresan tinta pulpen kepada kertas bergaris-garis. kepekaan indra itu kubawa-bawa dalam menghantarkan tulisan-tulisan ini.

     akan pengenalanku pada kata yang diuntai menjuntai, kuungsikan mereka perlahan-lahan pada sebuah rak bernama colorbox: stereotype. rak berbagai stereotip tentang kepekaan kelima indraku mengilhami seluas-luasnya warna yang kutorehkan dalam duniaku.

duniaku berputar statis.


selamat membaca, teman memanenšŸ€.

(2020)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[penyakit tua]

[apa gerangan ibu?]

[ironi]