[ironi]
aku punya rumah yang ubinnya sempurna mengkilap, perabotannya sempurna tak kasat debu. di malam hari, akan kau temukan teras yang sempurna terang benderang. itu rumahku.
seketika
matahari menyalak. kau tak tahu, seberapa kami ingin menanggalkan baju. panas
sempurna mengkungkung ruangan ini. sekonyong-konyong hujan pun turun. kau tak
tahu, betapa kami harus menyebar gayung-gayung ini. asbes sempurna menumpahkan
titik-titik airnya.
kali
ini aku memanggil tukang, berharap kekacauan ini sirna.
"ini
zaman sudah maju, kemana saja kau hingga tega mengupahku dengan uang kolot
seperti itu?"
malangnya,
ia tak sudi dibayar dengan rimis. harapanku setengahnya sirna, benar-benar
setengah. kami, seisi rumah ini, gamang betul.
setiap
malam aku melamun, kadang berpikir yang tidak-tidak saja, kadang mengosongkan
isi kepala juga. merapalkan harapan, semoga rumahku tidak dingin lagi. setiap
siang aku melenguh, seperti dada sedang memikul berton-ton angin, ia keluar
terus dari mulutku. merapalkan harapan, semoga rumahku tidak panas lagi.
kenapa
saat siang panas membabi buta, seperti sedang mencari-cari musuh bebuyutannya?
kenapa
saat malam hujan menumpah ruah, seperti sedang membalaskan dendamnya?
siapa
musuhnya? apa dendamnya?
ironinya,
ini bukan majas ironi. ini sempurna ironi itu sendiri.
(pulo raja. sabtu, 28 agustus 2021)
Komentar
Posting Komentar