[tentang awal]
dalam sebuah tulisan yang tak kunjung tersingkap, tersebutlah awal, yang menjadikan seseorang memunculkan provokasi, kebetulan kosmik, berbentur, dan kacau. mengakibatkan sesuatu terhasut bermacam emosi, dihadapkan pada peristiwa yang kebetulan begitu saja terjadi, kemudian berbenturan, dan menjadi kacau. tapi, ini bukan tentang kemarahan yang meledak-ledak. emosi setidaknya mengambil ribuan hal tersirat, termasuk ambigunya sebuah awal.
awal
menjadi keliru ketika ia tak kunjung mendapat tempat yang dirindukan, dan
menjadi dirindukan ketika ia mendapat tempat yang keliru. ia menghadirkan
kekeliruan pada berpasang muda-mudi yang saling merindu. ia eksis
ditengah-tengah mereka yang merindukan mimpi dari kekeliruan saat beranjak
dewasa. ia juga ada pada bermacam tindak tanduk yang sama kompleksnya. tapi
dalam hal ini, awal menjadi nyata karena dalam persepsinya dikaitkan dengan
langkah dan waktu.
seorang
teman menganalogikan sebagai berikut. kita tidak bisa mengembalikan langkah
kaki kiri tiga detik yang lalu dan tanpa tedeng aling-aling mengubahnya menjadi
kaki kanan. tapi, kita bisa memikirkan kaki mana yang pantas untuk dilangkahkan
lebih awal di tiga detik selanjutnya. takzimnya, tidak masalah merugi karena
hal-hal seperti itu. karena "memikirkan" adalah cara supaya kita
"mengetahui" mana kaki yang dirindu untuk dilangkahkan selanjutnya
dan berusaha agar "tidak mengulangi" langkah kaki yang keliru itu.
berkaca
dari persepsi tersebut, halaman ini adalah penanda awal tulisan
panjang-panjang, yang lebih banyak menyiratkan tautan konotasi, yang sudah
pasti tidak jelas, dan sedikit maknanya. tapi, awal adalah langkah dan waktu,
kan? maka, izin menodongkan pesan ini. awal menjadi momok bagi seseorang yang
belum cukup, tapi setidaknya ia berusaha memikirkan dan mencari tahu akan
kekeliruan dan kerinduan itu. ia tidak tergesa-gesa tapi enggan menanti-nanti.
p.s.:
tulisan ini tidak bermaksud menggurui karena merasa sudah suci dan benar. sudah
pasti isinya opini. sepenuhnya disadur dari sumber yang sudah dibaca, didengar,
dilihat, dan dirasa.
(pulo raja. kamis, 22 juli 2021)
Komentar
Posting Komentar